Dapatkah kita sungguh mengenal Tuhan ? Sejauh mana kita mengenal Tuhan ? Apakah Tuhan menyatakan diriNya sepenuhNya kepada kita  ? Ataukah ada misteri yang seringkali kita tidak mengerti ?

Tuhan Allah adalah Tuhan yang berbeda mutlak dengan kita manusia. Dia adalah Pencipta dan kita adalah ciptaanNya. Dia tidak terbatas dan kita terbatas. Dia kekal, tidak ada awal dan akhir sedangkan kita sementara. Tuhan adalah Tuhan yang maha tahu sedangkan pengetahuan kita tentunya sangat sangat terbatas. Tuhan adalah Tuhan yang maha hadir sedangkan kita dibatasi ruang. Tuhan adalah Tuhan yang maha kuasa sedangkan kita penuh dengan kelemahan dan ketidakberdayaan. Walaupun demikian kita sebagai manusia juga adalah ciptaan yang unik. Kita manusia boleh mengenal Allah karena kita diciptakan menurut gambarNya. Kita berbeda dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya sebab manusia mempunyai pribadi yang dapat berelasi dengan Pribadi Allah. Ini adalah satu privilege manusia sebagai gambar dan rupa Allah.   

Di dalam manusia mengenal Tuhan Allah, manusia harus bergumul di dalam ketegangan paradoks bahwa Allah adalah Allah yang jauh transenden (dan misterius) dan juga adalah Allah yang beserta dengan umatNya. Kedua pengertian ini harus kita pegang dua-duanya. Tuhan bukan hanya Tuhan yang menyatakan diriNya dan dapat dikenal. Tetapi Tuhan juga adalah Tuhan yang misterius dan menyembunyikan diriNya. Seringkali kita merasa Tuhan itu begitu jauh dari kita. Seakan-akan keberadaannya tidak dirasakan di dalam dunia kehidupan kita.  Adakalanya hidup kita penuh kesulitan dan kita berteriak minta tolong namun ketika kita berdoa kita tidak mendapati Tuhan menjawab doa kita. Ada kalanya hidup kita mengalami banyak kemalangan dan kita bertanya, mengapa Tuhan ? Dimanakah Engkau ? Ini adalah pergumulan yang riil. Saya sendiri ada pergumulan seperti ini. Mengapa Allah yang dekat terasa jauh ? Mengapa Dia terasa begitu tidak terjangkau ? Sebab kita harus mengerti bahwa Allah adalah Allah yang transenden dan kita terbatas memahamiNya.

Ambil contoh : di dalam kehidupan Yusuf dalam kitab Kejadian. Kita dapat membayangkan pergumulan yang dialami Yusuf sungguh tidak mudah. Dia dijahati oleh saudara-saudaranya dan hendak dibunuh namun tidak jadi. Kemudian pada akhirnya dia dijual kepada para kafilah yang kemudian dia menjadi pegawai di rumah Potifar. Namun dia masuk penjara karena imannya menolak istri Potifar yang menggodanya. Yusuf hidupnya berada di dalam kemalangan. Dia dipenjara dalam waktu yang panjang. Dari rumah ayahnya yang disayang, dimasuk lubang sumur dan akhirnya penjara. Makin lama makin tragis. Kalau kita menjadi Yusuf, dapatkah kita merasakan Tuhan itu dekat dan menyertai ? Tentu tidak mudah sebab realitanya adalah kemalangan dan penderitaan. Tetapi Yusuf bisa melihat ini tangan Tuhan yang menyebabkan semua ini. Dari jawaban Yusuf kepada saudara-saudaranya kemudian kita tahu bahwa Yusuf mengerti bahwa di balik penderitaan dan kesulitan hidupnya ada tangan Tuhan yang memimpinnya dan keluarganya.  ( Engkau mereka-rekakan kejahatan tetapi Tuhan mereka-rekakan demi kebaikan ).

Ambil contoh lain mengenai kehidupan Ayub yang dikatakan saleh oleh penulis kitab Ayub. Ayub lalu mengalami penderitaan berat dimana anak-anaknya meninggal, seluruh usahanya bangkrut dan dia sendiri sakit parah. Bayangkan bila anda itu Ayub, bagaimana anda mengerti bahwa Allah adalah Allah yang dekat dan menyertai ketika kemalangan dan penderitaan besar menimpamu ?   

Sebagai orang percaya kita tentu mengerti bahwa Allah itu Allah Immanuel yaitu Allah yang beserta kita. Ini juga satu perspektif lain yang harus kita pegang. Di dalam segala pergumulan yang kita hadapi di dalam hidup ini, Tuhan Allah itu menyertai kita dan Dia tidak pernah meninggalkan kita. Ini adalah janji Tuhan bagi anak-anakNya di dalam Tuhan Yesus Kristus. Tetapi kita juga harus mengerti perspektif bahwa ketika Tuhan dekat, Tuhan juga transenden. Kita tidak bisa mengerti Tuhan secara keseluruhan. Siapakah kita manusia ? Tuhan Allah adalah incomprehensible ( tidak dapat diketahui sepenuhnya ). Banyak hal di dalam kehidupan kita yang kita tidak mengerti. Banyak misteri kehidupan yang tidak bisa kita pahami sepenuhnya.  Jalan Tuhan bukan jalan kita dan rancangan Tuhan bukan rancangan kita. Tuhan memberikan kekekalan dalam hati manusia tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan Allah dari awal sampai akhir.  Allah adalah Allah yang transenden dan tidak bisa kita pegang dan kontrol sesuai dengan kemauan kita.    

Sebaliknya seimbang lagi ketika kita mengerti Allah adalah transenden dan jauh, kita juga harus bepegang pada janji Firman Allah bahwa Allah itu dekat dan beserta dengan umatNya. Dia mengamati kita dan menjaga jalan hidup kita. Dia tidak meninggalkan kita bahkan di dalam kitab Roma 8 dikatakan bahwa tidak ada kuasa apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus !   

Saya percaya kedua perspektif paradoks ini yaitu Allah yang transenden dan imanen harus kita pahami. Selain ini adalah ajaran Alkitab, pengertian yang berat sebelah adalah pengertian yang tidak sehat bagi iman kita. Bila kita hanya condong kepada Allah yang jauh dan transenden, kita dapat berpikir bahwa Allah tidak peduli pada kita yang kecil ini. Dan ini dapat menjadikan kita tidak berdoa dan bergantung pada kebaikanNya bahkan kita dapat meragukan kebaikan kasihNya. Kitab Suci jelas mengajarkan bahwa Allah adalah kasih dan Allah mengasihi kita. Bagaimana kita mengerti Allah mengasihi kita ternyata Dia jauh dan seolah-olah tidak peduli pada kita. Karena itu Firman Tuhan mengajarkan bahwa Allah itu juga dekat dan mengasihi kita.

Tetapi bila kita sebaliknya condong menekankan Allah yang dekat imanen tanpa mengerti sisi misterius rencanaNya maka kita bisa kecewa di dalam mengikut Tuhan. Kita berpikir kita mengerti Tuhan yang dekat dan kita berpikir bahwa Dia dapat kita pahami sepenuhnya dan pegang. Tetapi kenyataannya Allah itu berdaulat dan tidak dapat kita kendalikan. Penekanan yang salah terhadap imanensi Allah ini dapat membuat hidup frustasi.  Sebab Allah adalah Allah yang seringkali diluar pemikiran kita. Ada sisi misterius dan ketersembunyian dalam diri Allah.

Anda dapat melanjutkan perenungan artikel ini ke refleksi pribadi saya di dalam diary reflections Refleksi dalam mengenal Tuhan yang jauh transenden misterius namun dekat imanen beserta kita

We have 41 guests and no members online