Setiap manusia di dalam dunia ini berhadapan dengan proses penuaan (aging) dan juga proses menuju kematian (dying). Ini adalah realita yang harus di hadapi semua orang. Tidak ada manusia yang kebal dari proses aging dan dying. Semua ini menyatakan benarlah apa yang Alkitab katakan bahwa upah dosa ialah maut dan semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Dosalah yang membuat hidup kita menuju kepada kematian yaitu maut.

Ketika kita masih kecil dan tidak berpikir banyak maka proses penuaan dan kematian ini tidaklah terlalu mengganggu. Anak kecil kebanyakan selalu ingin cepat besar. Anak saya, Fidelia Charis, sering berkata nanti kalau dedel besar dedel boleh ini dan itu. Dia ingin cepat bertumbuh dewasa. Tetapi orang yang di dewasa atau yang bahkan menginjak tua makin mengerti apa itu proses aging dan dying. 

Realita kematian dapat menjadi satu hal yang mengganggu di dalam kehidupan kita. Kita tahu bahwa satu hari kita akan mati dan kita sedang menuju ke sana. Hal ini dapat membuat kita cemas, kuatir dan takut.  Kematian itu sendiri bukanlah teman. Itu adalah musuh terakhir. Dari perspektif eksistensial secara umum, kematian kita membuat kita menjadi tidak ada makna. Dengan kematian, keberadaan kita hilang, kita masuk ke dalam isolasi total, kita terpisah dari persekutuan orang hidup, arti hidup kita pun hilang lenyap bersama dengan itu dan perihal mengenai kita pun segera dilupakan orang perlahan-lahan.

Pada malam hari ini, saya terinspirasi untuk menulis tulisan mengenai perihal kuasa mengampuni diri sendiri. Sebenarnya tadinya saya hendak memberikan judul yang menyolok dengan mengkaitkan dengan film terakhir yang saya dan istri saya nonton yaitu Insurgent. Judul yang mau dipakai tadinya adalah  “Kuasa dapat mengampuni diri bukan karena diri mempunyai sifat mengampuni ( seperti  kaum Amity ) atau diri mampu mengendalikan diri ( seperti kaum Divergent ) tetapi karena Tuhan Yesus terlebih dahulu sudah mengampuni kita.” Tetapi judul itu kepanjangan dan karena itu saya pendekin biar lebih gampang dibaca. Lagipula saya tidak sedang membahas film Insurgent dan analisanya.  Ok deh sekian basa basinya. Langsung ke pokok tulisan.

 

Tuhan Allah menciptakan manusia di dalam relasi dengan Tuhan, dengan sesama, dengan alam semesta dan dengan dirinya sendiri. Ada miripnya dan ada analogisnya (walaupun ada bedanya juga), Allah Tritunggal yang mempunyai relasi di dalam diriNya sendiri menciptakan manusia gambar dan rupaNya yang mempunyai relasi dengan dirinya sendiri. Kita sebagai manusia ternyata mampu dan terus berinteraksi dan berdialog dengan diri kita. Di dalam bahasa Inggris kata saya bisa dibagi menjadi : I, me dan myself. Dan menariknya di dalam relasi saya dengan saya sendiri,  saya dapat berbicara kepada diri saya sendiri ( I speak to myself ).  Saya juga dapat memberi semangat kepada diri saya sendiri  ( I encourage myself ).  Ini adalah relasi yang menarik di dalam pribadi manusia dengan kedalaman dirinya.

 

Pemazmur seperti Daud di dalam mazmurnya ada membahas hal relasi diri dengan diri. Daud mengatakan di dalam satu mazmurnya “Hatiku siap. Ya Allah hatiku siap. Aku mau bernyanyi. Aku mau bermazmur. Bangunlah wahai jiwaku ! Bangunlah gambus dan kecapi ! Aku mau membangunkan fajar”. Daud mengatakan kepada dirinya supaya dirinya bangun untuk memuji Tuhan. Kemudian di bagian yang lain dalam Mazmur 42, Daud mengatakan : “Mengapa engkau gelisah hai jiwaku dan tertekan di dalam diriku. Berharaplah kepada Tuhan maka aku akan bersyukur kembali”. Dalam hal ini Daud memberikan konseling dan terapi pada dirinya sendiri. Daud menasihati dirinya dan mengingatkan dirinya untuk berharap kepada Allah. Daud mengkotbahkan kepada dirinya tentang Firman Allah. Daud mengingatkan dirinya bahwa Allah adalah pengharapan.

 

Dapatkah kita sungguh mengenal Tuhan ? Sejauh mana kita mengenal Tuhan ? Apakah Tuhan menyatakan diriNya sepenuhNya kepada kita  ? Ataukah ada misteri yang seringkali kita tidak mengerti ?

Tuhan Allah adalah Tuhan yang berbeda mutlak dengan kita manusia. Dia adalah Pencipta dan kita adalah ciptaanNya. Dia tidak terbatas dan kita terbatas. Dia kekal, tidak ada awal dan akhir sedangkan kita sementara. Tuhan adalah Tuhan yang maha tahu sedangkan pengetahuan kita tentunya sangat sangat terbatas. Tuhan adalah Tuhan yang maha hadir sedangkan kita dibatasi ruang. Tuhan adalah Tuhan yang maha kuasa sedangkan kita penuh dengan kelemahan dan ketidakberdayaan. Walaupun demikian kita sebagai manusia juga adalah ciptaan yang unik. Kita manusia boleh mengenal Allah karena kita diciptakan menurut gambarNya. Kita berbeda dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya sebab manusia mempunyai pribadi yang dapat berelasi dengan Pribadi Allah. Ini adalah satu privilege manusia sebagai gambar dan rupa Allah.   

This is the day that the LORD has made, I will rejoice and be glad in it
Bagian lagu hymne

“Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya” ( Maz 118:24 )

Lagu “hari ini hari ini harinya Tuhan, mari kita bersukaria” sering dinyanyikan oleh kita di gereja apalagi di sekolah minggu. Tetapi sadarkah maknanya sudah jauh menyeleweng dari konteks Alkitab ? Bukankah kita seringkali melihat dan mencomot ayat mazmur 118 ini dan mengartikan bahwa “Hari minggu adalah harinya Tuhan” bahkan juga lagunya diperluas “Hari senin, hari selasa, harinya Tuhan”, dsb. Tetapi apakah begitu maknanya dari ayat Mazmur 118 itu ?

Seringkali kita menghadapi dilemma menghadapi ajaran yang tidak Alkitabiah yang beredar sekarang ini. Bagaimana kita harus menyikapinya ? Apakah menegurnya ? Atau membuat pembawa ajaran itu menjadi diam. Orang modern sekarang ini mempunyai pandangan bahwa kita harus saling menghormati. Kalau kita menegurnya maka kita tidak menghormatinya. Sebab semua ajaran sama validnya. Untuk mendiamkan ajaran tertentu adalah salah dan tidak menghormati mereka dan bisa dianggap tidak toleransi atau berpikiran sempit. Di dalam dunia ini membuat seseorang menjadi diam adalah lawannya kasih. Tetapi bagaimana menurut Alkitab.

“Jika kita mengaku dosa maka Dia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” ( 1 Yoh 1:9 )
“Ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami” ( Doa Bapa Kami )

Di dalam dunia yang penuh dengan konflik ini, Kekristenan muncul sebagai agama yang berbeda dari agama yang lain. Mengapa ? Karena di dalam kekristenan ada ajaran mengenai pengampunan. Pengampunan adalah ajaran unik dari Kekristenan dan ini sudah mengubah hidup begitu banyak orang. Mengapa ? Karena manusia memerlukan pengampunan. Manusia sudah jatuh di dalam dosa dan bersalah di hadapan Allah yang kudus dan adil. Hati nurani manusia yang berdosa juga menuduh dia. Selain di hadapan Allah, manusia juga seringkali bersalah dihadapan sesama. Seringkali seorang anak tidak taat kepada orang tuanya. Suami tidak setia kepada istrinya. Tuan tidak mengasihi hambanya. Dan teman-teman memperlakukan teman dengan tidak adil. Manusia yang berdosa adalah bersalah dihadapan Allah dan juga sering bersalah terhadap sesama. Dan kita membutuhkan apa yang namanya pengampunan.

Refleksi dari Daniel 4-5

Siapakah yang memerintah di dunia ini ? Kuasa siapa yang terbesar di dalam dunia ini ?. Di dalam buku Daniel, yang memerintah dunia ini kelihatannya adalah bangsa Babilonia dibawah Nebukadnezar, Belsyazar, dll. Mereka kelihatannya adalah figur yang berotoritas secara fenomena dan begitu sangat dasyat kekuasaannya.

Tetapi kitab Daniel memberitahukan kepada kita bahwa mereka boleh berkuasa karena diberikan oleh Tuhan Allah otoritas dan kuasa. Otoritas tertinggi adalah Raja segala raja di surga. Karena itu manusia harus takut kepadaNya dan hormat kepadaNya.
Kalau kita lihat di dalam Daniel 4, disana Raja Nebukadnezar menyombongkan diri dan akhirnya Tuhan Allah menghukum dia sehingga dia seperti binatang yang makan rumput sampai akhirnya dia mengakui kekuasaan Tuhan yang maha tinggi. Di dalam Daniel 5, raja Belsyazar juga melakukan hal kesombongan di mata Allah dengan minum dari perkakas Bait Allah dan memuji berhala. Akhirnya dengan tulisan di tembok mengatakan bahwa kerajaannya akan berakhir.
 
Ada pelajaran disini yaitu Nebukadnezar dan Belsyazar adalah figur yang di atas tetapi mereka menyombongkan diri. Alkitab mengajarkan bahwa kesombongan mengakibatkan kejatuhan seseorang. Ini satu pelajaran bagi yang memimpin di dalam otoritas. Jangan sombong !
 
Setiap otoritas itu berasal dari Tuhan Allah. Karena itu marilah kita menggunakan otoritas dengan saleh. Otoritas yang saleh itu dipenuhi dengan keadilan, kesetiaan, kebenaran, kerendahan hati dan kasih. Ingat bahwa Tuhan yang berotoritas. Takluk pada otoritas Raja segala raja,

Jeffrey Lim
21 Mei 2007

Refleksi dari Daniel 7

Refleksi dari Otoritas kekuasaan dan Tuhan Allah 1 mengajarkan bahwa figur otoritas haruslah rendah hati, jangan sombong dan mengakui otoritas Tuhan sebagai otoritas tertinggi.

Sekarang dibagian Daniel 7 ini kita melihat satu pelajaran rohani yaitu Daniel bermimpi mengenai 4 binatang yang berkuasa. Dari konteks dan interpretasi kitab Daniel yang berisi apokalypto ini, kita tahu binatang ini melambangkan kerajaan-kerajaan yang berkuasa. Mereka dilukiskan sebagai binatang yang buas yang berarti mereka berkuasa dengan kekerasan. Tetapi akhirnya nasib binatang-binatang ini akhirnya menemui kehancuran. Ini melukiskan kerajaan manusia yaitu Babilonia, Media Persia, Yunani dan Romawi yang berkuasa namun akan berakhir kekuasaannya.

I.  Pendahuluan
II. Isi
1. Pandangan Bukan Kristen
2. Pandangan Kristen
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
I. Pendahuluan
Kita mungkin sudah terbiasa melihat kejadian-kejadian alamiah di dunia ini. Kejadian-kejadian ini adalah kejadian yang terjadi secara alamiah di dalam alam semesta ini, seperti : hujan yang membasahi bumi, matahari yang bersinar menghangati bumi, bulan dan bintang yang bersinar pada malam hari, hukum gravitasi yang mengakibatkan benda jatuh ke bawah, angin bertiup, hasil panen di sawah, rumput kecil yang bertumbuh, tumbuhan yang berkembang, tumbuhan yang berbuah, gelombang air laut, burung-burung di udara, binatang-binatang yang mencari makan di hutan, seorang wanita melahirkan seorang bayi, mata air yang mengalir ke dalam lembah-lembah, air yang mengalir di antara gunung-gunung, dan siklus-siklus di dalam alam semesta. Inilah kejadian di dalam hidup kita sehari-hari, bukan ? Kejadian sehari-hari ada juga yang berupa bencana alam seperti banjir, gunung meletus, longsor, hujan es, angin topan, kecelakaan lalu lintas, sakit-penyakit, kematian dan sebagainya.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” ( Fil 4: 8)

Sampah masuk, sampah keluar. Demikianlah pepatah yang terkenal di dunia komputer. Ini berarti bila kita memasukkan sampah sebagai masukan maka pengeluarannya akan sampah lagi. Hal ini berlaku dengan hati dan pikiran kita manusia. Hati dan pikiran yang diisi dengan sampah akan menghasilkan tingkah laku dan karakter yang tidak baik. Tetapi sebaliknya hati dan pikiran yang diisi dengan hal yang baik dan membangun akan menghasilkan hidup yang limpah, kaya rohani dan juga karakter yang baik. Ini hukum alam yang sudah Tuhan tetapkan.

”Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah. Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. “ (Amsal 2:1-6)

Pendahuluan :
Jaman sekarang adalah banyak budaya gambar. Tetapi lebih sedikit budaya kata-kata. Bahkan sekarang adalah dunia multimedia gabungan gambar dan kata. Namun gambar menjadi lebih dominan. TV, Internet, dunia hiburan menawarkan gambar. Semua itu ada efeknya terhadap hidup kita.
Apa pentingnya kata-kata bagi hidup kita dan mengapa kita harus mempertahankan tradisi kata-kata ? Untuk itu marilah kita renungkan Firman Tuhan. Sebelumnya
Mari kita parsing ayat di atas !

Tuhan menyertai Yosua sesuai dengan janjiNya
- By Jeffrey Lim -

“Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau ( Yosua ) seumur hidupmu; Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan meninggalkan engkau dan tidak akan membiarkan engkau.” ( Yosua 1: 5)

Yosua menanggung tugas yang sangat besar yaitu dia harus menjadi pemimpin bangsa Israel menggantikan Musa. Musa membawa Bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir dan Musa sebelumnya yang memimpin bangsa Israel. Dari pengalaman hidup Musa memimpin bangsa Israel, dia mengalami banyak pergumulan, kesulitan, kesedihan. Sebab Bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk dan mereka sering tidak taat dan bersungut-sungut kepada Tuhan. Bangsa ini juga bangsa yang terdiri dari 12 suku yang beragam.

Baca Mazmur 139

“Kemana aku dapat pergi menjauhi rohMu, kemana aku dapat lari dari hadapanMu ?” ( Mazmur 139:7 )

Mazmur 139 merupakan Mazmur yang sangat indah sekali yang menceritakan mengenai Tuhan Allah beserta dengan sifat-sifat dan atributnya. Allah Israel, Tuhan Allah kita adalah Allah yang Maha Tahu ( omniscience ) dan Maha Hadir ( omnipresence ) dan Maha kuasa ( omnipotence ).

Allah adalah Allah yang Maha Tahu dimana Ia tahu dan mengenal kita semua anakNya. Tuhan menyelidiki dan mengenal kita ( ay 1). Dia mempunyai pengertian yang intim terhadap kita dan ciptaanNya.

“Hanya dekat Allah saja aku tenang, daripada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah” ( Mazmur 62:2-3 )

Hidup di dalam dunia yang penuh dengan kesulitan ini membuat manusia menjadi tidak tenang. Manusia memikirkan bagaimana masa depannya, memikirkan keamanan jiwanya. Di dalam dosa manusia menjadi tidak aman jiwanya, merasa taku, rasa bersalah dan kuatir. Di dalam dosa manusia hidup di dalam kesia-siaan belaka. Karena dosa maka manusia bermusuhan dengan Allah. Ketika Adam pertama jatuh ke dalam dosa, dia menjadi takut kepada Allah. Manusia takut kepada Allah karena takut dihukum dan dihakimi. Manusia merasa bersalah karena dosanya dan takut dihakimi oleh Allah. Akibat dosa juga manusia menjadi bermusuhan dengan sesamanya. Manusia yang seharusnya hidup di dalam kasih persaudaraan menjadi saling curiga, saling menuduh, saling melukai, saling menguasai. Maka hidup manusia di dalam dunia ini adalah pergumulan dan pengembaraan di padang gurun sebelum manusia bertemu dengan Tuhan. Agustinus seorang Bapa gereja mengatakan bahwa manusia tidak akan merasa damai jiwanya sampai bertemu dengan Tuhan.

“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” ( Yohanes 16:13a )

Alkitab mengajarkan bahwa semua orang percaya memiliki Roh Kudus ( Roma 8:9 ). Roh Kudus adalah materai keselamatan bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Roh itu tinggal di dalam hati orang percaya sebagai Allah yang imanen yaitu Allah yang beserta kita. Siapakah kita ini yang hanya tanah dan debu sehingga Roh Allah tinggal di dalam diri kita bahkan Alkitab mengajarkan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus ( 1 Korintus 6:19 ). Siapakah kita yang terbatas dan lemah ini sehingga Allah mau tinggal di dalam hati kita ?
Apa pekerjaan Roh Kudus didalam hidup kita orang percaya ? Alkitab mengajarkan bahwa Roh Kudus itu adalah Roh Kebenaran. Roh Kudus berkait dengan kebenaran dan pengajaran tentang kebenaran. Alkitab berkata bahwa Roh Kudus itu Allah pribadi ketiga yang mewahyukan kebenaran. Roh Kudus adalah Roh Allah dan Dia adalah Allah sendiri. Roh Kudus disebut sebagai Roh Wahyu ( Efesus 1:17 ). Roh Kudus adalah Roh yang memcelikkan mata hati orang sehingga membuat orang mengerti Firman Tuhan. Seperti janji Tuhan Yesus kepada kita bahwa Roh Kudus akah memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran.

Renungan dari Roma 8:28

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” ( Roma 8:28 )

Hidup di dalam dunia ini tidak selalu mulus. Hidup di dalam dunia ini tidak selalu lancar. Hidup tidak selalu senang. Alkitab mengatakan di dalam pengkotbah “ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari”.

Ada kalanya di dalam hidup ini manusia mengalami kesulitan, penderitaan, sakit penyakit. Ada orang yang cacat tubuhnya: buta,tuli,bisu, ada yang mengalami penyakit berat yang menyakitkan, ada orang yang hanya terbaring di kamar karena lemah tubuhnya, ada orang yang ditinggalkan istri anaknya, ada orang yang ditolak oleh masyarakat, ada orang yang menjadi korban kekejaman orang lain, ada orang yang disiksa oleh orang lain, ada orang yang tidak diperlakukan manusiawi. Mereka yang menderita sering berpikir “Mengapa hal ini terjadi ?” atau “Mengapa Allah membiarkan hal ini terjadi ?”. Juga orang menderita sering bertanya “Mengapa aku yang mengalami hal ini ?” dan “Dimana Tuhan ketika saya menderita”

“Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!”
( Roma 12:14 )

“kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar;” ( 1 Korintus 4:12 )

“dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. ( 1 Petrus 3:9 )

Alkitab mengajarkan bahwa kita sebagai orang percaya dipanggil untuk menjadi saluran berkat. Seperti lagu “Jadikan aku saluran berkat” kita dipanggil untuk memberkati. Apa artinya memberkati ? Mari kita melihat apa artinya memberkati !

Tuhan kita adalah Tuhan yang memberkati umatNya. Tuhan memberkati berarti Tuhan berkenan dan memberi keuntungan bagi yang diberkatinya. Di perjanjian lama, Tuhan menjanjikan berkat kepada manusia yang taat kepadaNya namun kutuk kepada manusia yang melanggar FirmanNya. Ketika manusia pertama jatuh ke dalam dosa, Tuhan mengutuk manusia dan alam semesta. Karena dosa manusia maka Allah mengutuk manusia. Karena dosa maka manusia hidup di dalam kemalangan, penderitaan, kekosongan, kesia-siaan terutama karena keterpisahan dari Allah.

Renungan dari Surat Filipi 1

“Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini……. Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah” ( Filipi 1:3-11 )

Paulus berada di dalam penjara ketika sedang menulis surat Filipi ini. Di dalam penjara seharusnya tidak enak : Fisik yang terkurung, kadang-kadang ada penyiksaan, kebosanan, kebersihan yang kotor, dll. Tetapi yang terutama adalah beban batin di dalam penjara. Manusia bila tidak bekerja dan tidak beraktivitas dapat mengakibatkan kejenuhan dan kekosongan. Tetapi mari kita lihat apa yang rasul Paulus alami dan kerjakan.

Renungan dari Yesaya 52:13-53:12

Kitab Yesaya dibagi menjadi 2 bagian yaitu Yesaya 1-39 dan 40-66. Yesaya 1-39 lebih banyak berisi mengenai penghukuman tetapi Yesaya 40-66 berisi berita penghiburan. Dibuka dengan Yesaya 40 dengan kalimat hiburkanlah, hiburkanlah. Di dalam Yesaya ini ada 4 servants songs. 4 Servant songs ini adalah nyanyian hamba. Hamba Tuhan ini unik dan akan melaksanakan misinya di dalam konteks penghiburan bagi umat berdosa dan yang kita hendak bahas adalah servants songs yang terakhir.

Hamba Tuhan yang akan kita bahas adalah hamba Tuhan yang menderita. Hamba Tuhan ini berbeda dengan Israel yang tidak setia. Hamba ini adalah hamba yang setia. Ternyata hamba Tuhan ini adalah hamba Tuhan yang menderita.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. ( Mazmur 1:1-2 )

Yang merubah jiwa manusia adalah Firman Tuhan. Yang sempurna menyegarkan jiwa kita adalah Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Firman Tuhan adalah makanan rohani kita orang percaya. Di jaman di mana problema manusia begitu banyak seperti penderitaan, dosa, depresi, kesepian, kekosongan, konflik, kebencian, peperangan, nafsu, maka yang dibutuhkan manusia adalah Firman Tuhan. Firman Tuhan berkuasa mengubah jiwa manusia. ( Bdk 2 Tim 3:16 ). Firman Tuhan juga memberikan pedoman, tuntunan hidup dan bagaimana supaya mempunyai hikmat.

“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyur dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” ( Kejadian 12:2-3 )

Ayat indah ini adalah janji Tuhan Allah kepada Abraham dan digenapi di dalam Tuhan Yesus Kristus. Di dalam Kristus semua orang percaya mendapatkan berkat rohani yang melimpah. Rasul Paulus menyadari ini dan dia menulis surat Efesus dan mengatakan “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga” ( Ef 1:3 )

Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" ( Matius 13:3-9 )

We have 15 guests and no members online