“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” ( Yoh 15:8 )

Bagaimana seharusnya orang Kristen itu hidup ? Ini pertanyaan yang harus dipikirkan. Mungkin jawabannya sederhana yaitu untuk memuliakan Allah, untuk bertumbuh semakin serupa Kristus. Tetapi sebenarnya jawabannya tidak sesederhana seperti jawaban naive anak-anak. Mengapa ? Sebab di dalam konteks jaman ini kita menghadapi zeitgeist ( spirit ) jaman yang sedang melanda kita dan pasti akan mempengaruhi pemikiran kita mengenai bagaimana kita harus bertumbuh menjadi serupa dengan Kristus.

Di jaman yang penuh dengan kekosongan dan penuh dengan penderitaan hidup ini, banyak ditawarkan teori mengenai pengembangan diri. Teori psikologi, teori managemen, teori kepemimpinan, teori motivasi semuanya banyak membahas mengenai hal ini. Coba perhatikan ada zeitgeist ( spirit ) apa di balik semua ini ? Teori-teori semua ini mempunyai pandangan bahwa kita semua perlu untuk mengembangkan diri makin maju dan makin makin maju. Bahkan paradigma pengembangan diri ini banyak masuk ke dalam teologi dan lebih dari itu ke dalam kehidupan orang Kristen.

Buat apa saya membaca Alkitab ? Supaya saya bertumbuh ! Buat apa saya bertumbuh ? Supaya semakin serupa dengan Kristus ! Buat apa saya bertumbuh ? Supaya saya maju di dalam Tuhan ! Kedengarannya ok bukan ? Memang sebenarnya ini ok. Tetapi marilah kita melihat jangan secara fenomena saja. Marilah kita melihat esensi dibalik semua ini.

Sebelum kita menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat maka kita ada di dalam kegelapan. Kita ada di dalam murka Allah. Dan karena kita berdosa maka kita berada di dalam kutuk hukum Taurat. Ini keadaan yang sangat mengerikan. Waktu dalam gelap kita tidak bisa melihat apapun. Kita buta dan yang kita lihat hanyalah kegelapan. Dan kita hidupnya menderita dan malang.  

Tetapi ketika Roh Kudus menerangi hati kita di dalam pemberitaan Firman Tuhan dan menggerakkan kita untuk menerima anugerah untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat maka kita ada di dalam terang. Saat itu kita berpindah dari kerajaan gelap ke dalam kerajaan terang. Waktu kita mulai melihat terang maka kita mulai bisa memilah, membedakan, ada distingsi dan pemisahan antara terang dan gelap.  Analogi paling mudah adalah di tengah malam hari yang gelap yang tidak ada lampu kita tidak bisa membedakan apa-apa. Semua menjadi satu yaitu kegelapan. Namun ketika siang hari kita melihat adanya pohon, mobil, rumah, jalanan, dan lain-lain.

Kemarin malam saya dan istri saya menonton film DVD mengenai pikiran manusia dan pengaruhnya terhadap kepribadian. Judulnya The Human Mind : Personality. Di dalam satu bagian diceritakan bahwa ada 2 pribadi yang identik kembar dan mempunyai sifat yang mirip sekali. Kemudian kedua pribadi ini mengkonsumsi pikirannya dengan 2 hal yang nuansanya berbeda dalam beberapa periode. Yang pertama mendengarkan  dan berbicara hal-hal yang cerita, mendengar musik yang ceria. Yang kedua mendengarkan dan berbicara hal-hal yang lebih nuansa moody dan mendengarkan musik yang lebih melankolik. Ternyata setelah beberapa periode, kepribadian 2 orang ini menjadi berbeda. Yang seorang lebih ceria dan yang lain lebih kurang ceria. Apa yang mereka dengarkan di dalam satu kata-kata dan musik membuat struktur otak dan kepribadian mereka berubah. Di dalam film ini mungkin ini hanya bagian cerita untuk membuat film. Tetapi saya kembali dibukakan satu pandangan bahwa kepribadian kita dapat berubah dari hal-hal yang kita konsumsi dari pikiran. Di dalam film Human Mind itu, kami juga dibukakan pengertian bahwa dorongan hasrat misalnya kemarahan yang berasal dari bagian otak amigdala dapat ditekan oleh bagian otak cortex frontalis. Pribadi yang pemarah dapat berubah bila dia belajar mengendalikan dirinya melalui pengertian dari kata-kata. Pengendalian diri akan membuat bagian otak cortex frontalis sehingga dapat meredam bagian amydala. Namun bagaimana seseorang dapat berubah hati pikiran, emosi dan tingka lakunya ? 

Ketika kita memikirkan hidup ini yang penuh dengan pergumulan, penderitaan, kesulitan dan air mata ini maka kita mempunyai satu harapan akan kebebasan secara rohani. Kedamaian dimana kita lepas dari segala hal yang menekan dan menindas. Memang ini apa yang Alkitab katakan bahwa kita semua sebagai anak-anak Tuhan dan segenap ciptaan Tuhan mengeluh dan menanti penebusan dan kemuliaan masa depan ( Rom 8:18-21 ). Kita semua anak-anak Tuhan punya satu keinginan untuk lepas dari derita dan dari kesia-siaan hidup ini dan masuk ke dalam kemuliaan.

Ketika kita merenungkan apa yang menjadi masalah di dalam dunia ini ? Mengapa adanya penderitaan dan kesulitan ? Mengapa adanya perang ? Mengapa adanya konflik ? Mengapa adanya kerusakan-kerusakan dan penyakit ? Maka kita mulai merenung apa yang terjadi pada manusia ? Apa yang terjadi ?

Pada malam hari ini, saya mendapatkan satu berkat dari mendengar mp3 seminar keluarga oleh Pdt. Joshua Lie. Perenungan yang saya dapatkan ( walaupun mungkin berupa pengembangan dari isi seminar )  adalah bahwa ada kaitan antara kejujuran dengan pengudusan. Ada kaitan juga antara dosa dan ketersembunyian.

Ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia berasa malu dan manusia bersembunyi. Manusia takut dan bersembunyi (hiding). Realita manusia dalam dosa di sepanjang sejarah manusia adalah manusia terus bersembunyi. Manusia sudah tidak bisa berdiri tegak tidak malu dan tidak bersalah di hadapan pribadi lain baik itu Tuhan maupun sesamanya. Isu bersembunyi ini adalah isu yang besar baik secara teologis maupun juga secara psikologis. Bapak psikologi modern Sigmund Freud juga membahas bahwa manusia mempunyai defense mechanism / mekanisme pertahanan. Manusia menuduh orang lain. Manusia berbohong. Manusia berpura-pura. Manusia menekan perasaannya. Manusia mengalihkan. Manusia merasionalisasi. Semua ini upaya manusia untuk bersembunyi.

We have 8 guests and no members online