“Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (Pengkhotbah 1:2)

Salah satu kitab yang paling aneh di dalam Alkitab adalah Kitab Pengkotbah. Dan yang kedua adalah Kidung Agung. Mengapa Kitab Pengkotbah begitu aneh ? Karena isinya sepertinya pesimis dan berisi hal yang bersifat sia-sia. Bukankah Alkitab seharusnya optimis ? Bukankah Alkitab seharusnya memberikan pengharapan ? Bukankah iman itu didasarkan kepada pengharapan ? Bukankah Alkitab seharusnya juga memberikan arti ? Tetapi Kitab Pengkotbah mengatakan sia-sia. Bukankah hal ini aneh ?

Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang menulis kitab Pengkotbah ? Dikatakan di dalam ayat 1 bahwa “Inilah perkataan Pengkotbah, anak Daud, raja di Yerusalem” ( Pengkhotbah 1:1 ). Berarti Pengkotbah adalah anak Daud. Siapakah dia ? Anak Daud begitu banyak. Pengkotbah sendiri tidak menyebutkan namanya. Dia menyembunyikan namanya. Di dalam tradisi mengatakan dia adalah Raja Solomo. Dan saya juga berpendapat bahwa dia adalah Raja Salomo. Mengapa ?

Dari Mazmur 90

Hidup ini singkat. Biasanya paling panjang orang jaman sekarang tidak lebih dari 90 tahun. Dan kita merasakan waktu-waktu ini begitu cepat. Waktu itu melesat seperti anak panah. Tidak terasa umur kita sudah bertambah tahun demi tahun. Tetapi ketika waktu itu berjalan dengan cepat, pernahkah kita merenungkan apa artinya hidup kita ini ? Pernahkah kita merenungkan hidup kita ? Satu yang penting di dalam hidup adalah refleksi dan merenung. Sebab hidup yang tanpa refleksi dan merenung adalah hidup yang dangkal. Dengan refleksi dan merenung kita makin mengenal diri kita dan mengenal hidup ini dan artinya. Satu hal yaitu bagaimana kita merefleksi adalah dengan Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah cermin bagi jiwa kita dan Firman Tuhan adalah arah dan pedoman hidup kita.

Mari kita merenung satu bagian dari Firman Tuhan yaitu Mazmur 90.

Pertanyaan umum : Dimana arti dan signifikansi hidup manusia ?

Pertanyaan spesifik refleksi : Siapakah saya ? Apa arti hidup saya ? Apa makna hidup saya ?
   
Ini pertanyaan yang penting. Hanya manusia satu-satunya mahluk ciptaan Tuhan di dunia ini yang bisa mempertanyakan pertanyaan ini. Binatang tidak bisa mempertanyakan apa makna hidupnya. Binatang hanya lahir, makan, istirahat, kawin mengawin, beranak cucu dan mati. Bila hidup kita hanya untuk makan minum, kawin mengawin dan beranak cucu tanpa memikirkan arti hidup maka kita hidup remeh karena hanya menyerupai binatang. Tetapi manusia di dalam dirinya sendiri adalah mahluk yang mencari nilai. Karena manusia di dalam dirinya ada sense of divinity. Sensus divinitas.

Seharusnya manusia diciptakan untuk kemuliaan Tuhan. Tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakanNya dan menikmatiNya.  Namun setelah manusia jatuh dalam dosa, manusia mencari nilai dan signifikansinya diluar Tuhan. Manusia berdosa menggantikan kemuliaan Tuhan dengan berhala. Bahkan secara esensial, manusia menjadikan dirinya berhala dimana mereka ingin menjadi seperti Allah.

Ketika manusia mengkategorikan sesamanya menurut kategori bodoh atau pandai, miskin atau kaya, lambat atau efektif, lemah atu kuat. dsb maka kita harus waspada dengan semua kategori ini. Mengapa ? Karena tentunya secara alamiah manusia berdosa lebih suka dengan sisi yang sebelah kanan yaitu pandai daripada bodoh, kaya daripada miskin, efektif daripada lambat, kuat daripada lemah. Dan manusia akan semakin berjuang untuk meraih sisi ini.  Penilaian manusia terhadap manusia lainnya dilihat dari sisi angka dan kinerja yaitu angka IQ, angka materi, angka hasil, dsb. Ketika manusia dinilai melalui predikatnya seperti pekerjaannya, jabatannya, pendidikannya, status masyarakatnya, dsb ini adalah dehumanisasi. Manusia secara subjek dan esensinya sendiri adalah gambar dan rupa Allah yang mempunyai nilai dan dignitas.

Di dalam realitas dunia ini seringkali manusia dinilai dan menilai diri kita dan orang lain berdasarkan bakat, talenta, kemampuan, dan kinerja yang hasilkannya. Kosa kata dan perbendaharaan kata yang kerapkali dipakai di dalam mengukur keberhasilan seseorang adalah efektif, efisien, produktif dimana semua ini ditakar pada pencapaiannya. Dan menariknya, memang secara alamiah manusia yang sudah jatuh dalam dosa ingin tampil dan menunjukkan diri serta segala kebolehannya. Secara natural, manusia berdosa ingin supaya dirinya dipandang di mata sesamanya. Dan inti dari semua ini adalah manusia ingin menjadikan si aku yaitu dirinya menjadi pusat yang dinilai dan disembah. Dan secara esensi ini terjadi ketika manusia mulai menilai dirinya bukan menurut Firman Tuhan tetapi menilai dirinya dari standar dunia. Ketika manusia mulai menilai dirinya berdasarkan pencapaian dan hasil usahanya maka seringkali manusia mulai menilai dirinya berdasarkan angka. Angka menjadi Tuhan dan indikator menilai diri. Makna seseorang menjadi ditentukan oleh berapa banyak materi yang dia miliki, berapa banyak gaji yang dia dapatkan, berapa banyak projek yang dihasilkan, dan sebagainya. Semakin banyak maka semakin bernilailah seseorang itu.   

Angka !  Aspek Angka ! 1 2 3 dst ! Kita hidup dijaman dimana angka menjadi kriteria untuk mengukur banyak hal. Misalnya salah satu yang dilakukan di rumah sakit ketika seorang bayi baru saja dilahirkan kita mengukur berapa tinggi badannya dan berapa berat badannya. Di depan dashboard mobil kita melihat berapa km / jam, berapa rpm dan banyak indikator lain yang dinilai oleh angka. Di mp3 player  kita terlihat berapa frekuensi radio FM yang sedang dijalankan, berapa volume suara, dsb. Di jalan tol kita melihat berapa kecepatan yang diperbolehkan dan juga setiap kilometer kita melihat adanya petunjuk-petunjuk jarak. Ketika kita hendak memanaskan makanan menggunakan microwave maka kita mengatur berapa lama microwave akan dijalankan. Kemudian angka mulai bergerak dari 1 menit, 59 detik, dsb. Ketika kita hendak membeli barang di supermarket kita menghitung uang kita dan kemudian setiap belanjaan dihitung oleh cash register. Di handphone kita juga tertulis jumlah pulsa yang masih kita miliki. Sudah jelas di jaman digital ini kita tidak bisa lepas dari aspek angka. Bahkan aspek angka sangat menguasai kehidupan manusia.

We have 14 guests and no members online