Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari padaMu
( Mazmur 51:14 )

Di dalam dosa manusia kehilangan sukacita. Dosa merebut kegembiraan dan membelenggu manusia di dalam kemalangan. Apapun yang manusia kejar mungkin bisa mendatangkan kesenangan sementara tetapi tidak pernah mendatangkan sukacita kekal. Manusia boleh mencari kekayaan, manusia boleh mencari kebahagiaan, manusia boleh mencari nama, manusia boleh mencari kejayaan dan pangkat. Tetapi semuanya kosong. Semuanya tetap tidak bisa memuaskan manusia sebab ada kekosongan dan kehampaan di dalam dirinya yang tidak bisa diisi apapun selain dengan Kasih Tuhan sendiri.

Dunia ini penuh dengan kesengsaraan. Dunia ini penuh dengan kemalangan. Karena itu kita harus memperjuangkan kebahagiaan kita. Tetapi bagaimana kita dapat memperjuangkan kebahagiaan kita sebab ada dosa yang menghalangi kebahagiaan kita ? Apa yang membuat kita tidak bahagia adalah dosa kita. Dosa membuat kita terpisah dari sumber kebahagiaan. Dosa mematahkan kita dari sumber kasih. Dosa menghancurkan relasi kita dengan sang Pencipta dan Pemelihara.

Puji Syukur kepada Tuhan yang maha kasih karena kasih setiaNya untuk selama-lamanya. Dia membalaskan kejahatan kita sampai keturunan ketiga dan keempat tetapi memberikan anugerahNya kepada ribuan generasi bagi orang yang mengasihi Dia…… Dosa memang bisa merusakkan manusia. Dosa memang bisa melumpuhkan manusia. Tetapi dosa tidak pernah menang melawan anugerah Allah. Anugerah Allah menang atas dosa manusia. Di dalam anugerah Allah inilah kita boleh memperoleh kembali sukacita kita. Dengan diberikanNya AnakNya yang tunggal Tuhan Yesus Kristus maka kita bisa memperoleh sukacita kita dan kita boleh hidup kembali seperti apa yang Tuhan inginkan. Kita bisa menjalankan kehendakNya. Sebab Tuhan memberikan kita hati yang baru yaitu hati yang lembut dan taat. Kita ini semua buatan Allah yang diciptakan di dalam Yesus Kristus untuk melakukan perbuatan baik yang sudah Allah tetapkan sebelumnya. Tidak ada apapun di dalam dunia termasuk dosa yang bisa menghalangi rencana Allah yang indah di dalam diri kita. Sebab Tuhan berkata bahwa rancanganNya bagi umatNya adalah rancangan damai sejahtera (shalom) bukan rancangan kecelakaan.

Realita di dunia ini adalah manusia merasakan apa yang dinamakan penderitaan. Penderitaan adalah hal yang manusia alami ketika hidup di dunia ini. Ajaran Budhis mengajarkan bahwa hidup manusia ada di dalam penderitaan yaitu lahir, sakit, tua, mati. Hidup manusia ketika lahir sudah merasakan sakit dan menangis. Kemudian sakit penyakit membuat manusia menderita. Pada satu saat orang juga akan mengalami ketuaan dimana badan akhirnya menjadi lemah dan pada akhirnya terakhir yang paling tragis adalah kematian. Alkitab mengajarkan bahwa hidup manusia ini ada di dalam kesia-siaan. Di jaman modern dimana tekanan hidup semakin besar manusia makin merasakan susahnya hidup ini. Tuntutan pendidikan demikian tinggi. Kesulitan ekonomi melanda dunia ini. Untuk hidup saja orang sudah merasa sulit. Banyak manusia yang berteriak di dalam kesulitan ini. Banyak manusia yang tertekan, stress dan depresi.

Banyak orang mencari bahagia di dalam dunia ini. Orang hidup mau senang, mau bahagia, mau sukacita. Manusia mencari ini pergi kemana-mana dan mencoba dengan banyak cara. Ada yang mencari dengan uang, dengan kedudukan, dengan nama yang terkenal, atau dengan status dalam masyarakat, atau dengan pasangan hidup, atau dengan agama, dengan pendidikan, dengan hikmat, dan masih banyak cara yang manusia cari. Aristoteles, seorang filsuf mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah supaya bahagia. Manusia ingin mencari kepenuhan hidup. Hidup yang penuh dengan arti. Hidup yang penuh dengan warna. Hidup yang penuh kelimpahan. Hidup yang penuh dengan sukacita.

Marilah kita renungkan bahwa apa itu bahagia ? Bolehkah kita orang Kristen bahagia ? Bolehkah kita mencari sukacita ? Bolehkah orang percaya mengejar kebahagiaan ? Bolehkah tujuan hidup mencari bahagia ? Kedengarannya pertanyaan ini seperti duniawi dan sekular. Pertanyaan ini sepertinya seperti filsafat dunia yang mengajarkan untuk mengejar kebahagiaan. Berkesan egois, berpusat pada diri. Bukankah ajaran orang Kristen mengajarkan teologi salib ? Bukankah Tuhan Yesus mengatakan bahwa untuk mengikuti Dia maka kita harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia ? Alkitab juga mengajarkan bahwa bila kita mengikut Kristus sungguh-sungguh maka kita akan menderita aniaya. Jadi bolehkah orang percaya mencari sukacita di tengah dunia ini ? Realita di dalam dunia ini adalah adanya penderitaan. Ini realita yang kita sebagai manusia hadapi karena kita sudah jatuh di dalam dosa. Di dalam dosa adanya penderitaan, kesengsaraan, sakit penyakit, konflik, permusuhan, dan kematian. Dosa mengakibatkan kemalangan di dalam hidup manusia. Bolehkah di dalam dunia yang penuh penderitaan ini orang percaya mencari kebahagiaan ?

Renungan singkat mengenai sukacita   

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. ( Roma 8:1 )

Di bagian sebelumnya saya membahas mengenai bagaimana menjalankan perintah bersukacitalah senantiasa. Pada perenungan sebelumnya dibahas mengenai bagaimana menjalankan perintah ( imperatif ) bersukacita itu dimungkinkan karena apa yang terlebih dahulu Allah lakukan untuk kita ( indikatif ). Tanpa pekerjaan kasih karunia Allah maka manusia tidak mampu bersukacita. Bersyukur bahwa Injil adalah berita sukacita ! Karena injil manusia bisa hidup di dalam sukacita. Di dalam kesempatan kali ini, meneruskan mengelaborasi perenungan sebelumnya saya ingin membahas satu aspek apa yang membuat manusia itu tidak bisa sukacita yaitu bersalah ( guilt ).  

Baca Filipi 1

Kita hendak mempelajari mengenai kebebasan, sukacita dan bagaimana mendapatkannya ?

Kalau kita menyelidiki mood dari setiap surat Paulus, terdapat mood yang berbeda-beda. Kalau kita menyelidiki surat Galatia maka kita menemukan bahwa Rasul Paulus sedang marah kepada Jemaat di Galatia. Di dalam surat di Galatia, Paulus tidak memulai dengan ucapan syukur seperti yang biasa dia lakukan pada jemaat di tempat lain. Tetapi di jemaat Galatia dia memulai dengan kata “aku heran”. Ini surat kepada jemaat di Galatia. Situasi jemaat yang Paulus hadapi juga beragam-ragam. Jemaat di Korintus contohnya adalah jemaat yang paling banyak talenta tetapi banyak perpecahan dan juga banyak masalah moral dan etika. Tetapi ada satu jemaat yang Paulus sangat bersukacita yaitu Jemaat di Filipi.

Beginilah firman TUHAN: ''Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!   Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.   Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!   Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.   Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?  Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.'' 

Yeremia 17 mengatakan bahwa terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh dari Tuhan. Sebaliknya Yeremia mengatakan bahwa diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan. Kutuk yang Yeremia katakan bila orang mengandalkan manusia adalah ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di negeri angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduku. Sebaliknya berkat yang Yeremia katakan bila orang mengadalkan Tuhan mirip dengan kalimat di dalam Mazmur 1 bagi mereka yang merenungkan Firman Tuhan. Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.  

Renungan singkat mengenai sukacita

Saya sering membaca berkali-kali dan juga mendengar orang mengatakan dari kutipan Alkitab bahwa “hati yang gembira adalah obat”. Saya juga sering ketika membaca surat Filipi bertemu dengan kalimat dari Paulus yang mengatakan “Bersukacitalah senantiasa”. Ini adalah salah satu ayat terpendek dalam Alkitab disamping “Tetaplah berdoa”. Tetapi jujur. Jujur sedalam-dalamnya di dalam hatiku. Seringkali saya bingung dengan satu perintah dari surat rasul Paulus untuk bersukacita. Bersukacita disini adalah perintah. Tetapi makin saya mengusahakan saya tahu bahwa saya tetap tidak bersukacita. Seringkali waktu saya membaca satu ayat hati yang gembira adalah obat. Jujur sejujur-jurnya yah. Saya merasakan bahwa saya menginterpretasikan ini sebagai satu perintah dimana kalau saya jalani maka akan mendatangkan kesembuhan baik di dalam fisik maupun jiwa. Tapi masalahnya bagaimana mempunyai hati yang bergembira. Makin berusaha untuk bergembira makin saya tidak bergembira. Saya seperti ketika saya mendengar bahwa buah roh adalah sukacita. Kemudian berusaha sekuat mungkin untuk sukacita. Akhirnya depresi.   

Tetapi … Puji syukur kepada Tuhan !  

Bersedih hati lebih baik daripada tertawa, karena muka muram membuat hati lega ( Pengkotbah 7:3 )   

Kembali saya akan membahas mengenai hati yang gembira adalah obat dimana judul kali ini adalah bersedih lebih baik daripada tertawa. Di lihat dari judulnya ini seperti hal yang kontradiksi. Kok bisa bersedih itu lebih baik daripada tertawa ? Bukankah hati yang gembira adalah obat tetapi kok disini dikatakan bahwa muka muram membuat hati lega ? Bagi saya ini bukan kontradiksi. Tetapi justru ada rahasia di dalamnya.

Sejujurnya dunia tidak menyukai ratapan. Padahal dunia ini adalah dunia yang penuh dengan penderitaan dan masalah. Manusia pada umumnya lebih suka melupakan masalah dengan kesenangan dunia. Mereka tidak suka meratap. Sebaliknya kalau kita selidiki di dalam Alkitab seringkali orang benar adalah orang yang meratap. Coba lihat kitab Mazmur yang berisi emosi orang-orang kudus. Emosi apakah yang paling banyak di dalam kitab mazmur ? Meratap.   

Banyak orang dunia mungkin berpikir bahwa menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus Kristus adalah hal yang sangat berat. Hal ini seperti perihalnya jalan asketis. Diri begitu disiksa dan begitu menyakitkan. Karena itu mereka menghindar jalan ini. Jalan ini tentunya tidak menyenangkan bagi kedagingan yang menyukai untuk dipuaskan nafsunya.  Jalan salib dipandang sebagai jalan yang bodoh, jalan yang hina, jalan memalukan dan jalan yang sangat merugikan. Tetapi anehnya justru di jalan salib ini sesungguhnya ada paradoks yang besar. Jalan yang sepertinya menuju kematian ini adalah sesungguhnya jalan menuju kehidupan. Jalan yang sepertinya jalan penderitaan ini adalah jalan menuju pengharapan.   

We have 9 guests and no members online