“Adapun Yusuf, ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja” ( Kej 37:36 )

Seringkali di dalam hidup ini ada peristiwa hebat yang melanda kehidupan kita. Mungkin itu kematian seorang yang kita kasihi, ditinggalkan orang yang kita bergantung, berpindah ke lingkungan baru, jatuh miskin, dsb. Tetapi ada hal berat yang dialami oleh Yusuf. Dia dijual oleh saudara-saudaranya dan sampai ke Mesir. Pertama dia masih kecil dan lemah. Kedua dia masih bergantung kepada orang tuanya. Ketiga dia masih tidak berpengalaman. Keempat dia harus menghadapi lingkungan yang baru. Kelima dia tidak mengerti bahasa Mesir. Keenam dia harus menghadapi masyarakat baru. Beban ini sungguh tidak mudah. Pasti dia bergumul berat dan banyak susah.

Bagaimana saudara bila menjadi seperti Yusuf ? Akan putus asakah ? Bisa-bisa bunuh diri kah sampai paling parahnya ? Tetapi kita melihat dari teladan Yusuf. Dia boleh susah. Dia boleh bergumul berat tetapi dia tabah. Dan dikatakan TUHAN menyertai Yusuf sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil di dalam pekerjaannya. Ini luar biasa. Yusuf mempunyai iman dan bersandar pada TUHAN di dalam situasi yang sulit dan mengembara ini. Tetapi yang lebih sulit yaitu ketika peristiwa istri potifar, dia dituduh jahat dan akhirnya dimasukkan ke dalam penjara.

“Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub” ( Kej 25:26 )

Cerita Alkitab itu memberikan kekayaan di dalam kita melihat hidup manusia. Yakub adalah seorang tokoh dalam Alkitab yang unik. Semenjak lahir dia sudah tidak mau kalah oleh kakaknya. Dan dia memegang tumit Esau sehingga dinamai Yakub. Yakub dikatakan di dalam kitab Ibrani sebagai orang beriman. Tetapi bila kita melihat hidup Yakub mungkin kita heran. Mengapa Yakub disebut orang beriman ? Di dalam renungan singkat ini marilah kita merenungkan hidup Yakub baik secara positif maupun negatif.

Yakub mempunyai karakter yang kurang baik. Dibandingkan dengan Esau, Yakub lebih licin dan lebih bersifat penipu. Esau lebih polos dan baik-baik. Yakub lebih banyak akal. Dan Yakub juga seorang yang bisa mengambil kesempatan dan memikirkan untung rugi. Ketika Esau sedang di dalam keadaan lelah dan lapar, Yakub dengan licin menawarkan untuk menukarkan semangkuk kacang merah dengan hak kesulungan. Kelihatannya Yakub seorang yang cerdik dan bisa mengambil kesempatan serta melihat nilai yang tinggi di dalam hak kesulungan bahkan dengan tega ingin merebut dari kakaknya. Yakub seorang yang suka menghalalkan segala cara.

Refleksi dari Hakim-hakim 6-7

Ada satu hal yang bisa kita pelajari dari hidup Gideon yaitu mengenai mengenal diri. Cerita dari hakim-hakim ini ada konteksnya yaitu

Tetapi orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Midian, tujuh tahun lamanya, dan selama itu orang Midian berkuasa atas orang Israel. Karena takutnya kepada orang Midian itu, maka orang Israel membuat tempat-tempat perlindungan di pegunungan, yakni gua-gua dan kubu-kubu. Setiap kali orang Israel selesai menabur, datanglah orang Midian, orang Amalek dan orang-orang dari sebelah timur, lalu maju mendatangi mereka; berkemahlah orang-orang itu di daerah mereka, dan memusnahkan hasil tanah itu sampai ke dekat Gaza, dan tidak meninggalkan bahan makanan apapun di Israel, juga domba, atau lembu atau keledaipun tidak. Sebab orang-orang itu datang maju dengan ternaknya dan kemahnya, dan datangnya itu berbanyak-banyak seperti belalang. Orang-orangnya dan unta-untanya tidak terhitung banyaknya, sekaliannya datang ke negeri itu untuk memusnahkannya, sehingga orang Israel menjadi sangat melarat oleh perbuatan orang Midian itu. Lalu berserulah orang Israel kepada TUHAN. Jdg 6:1-6

Kehidupan mengikuti Yesus itu ada banyak dinamikanya. Kehidupan mengikuti Yesus itu ada harga salib yang harus dibayar. Kehidupan mengikuti Yesus ada suka dukanya. Tetapi mengikut Yesus itu sangat berharga. Ini merupakan panggilan yang sangat mulia untuk mengikut Tuhan dan menjadi muridNya.

Renungan hari ini hendak membawa kita merenungkan satu tokoh yang mengikut Yesus. Harapan dari renungan ini kita bisa belajar dari karakter tokoh ini, cerita hidupnya dan juga bagaimana tokoh ini bergumul hidup sebagai murid Kristus. Harapan dari renungan ini adalah supaya kita bisa mempelajari hidupnya dan mengikuti teladannya yang baik dan menjauhi teladannya yang salah. Tokoh ini adalah salah satu murid Yesus terdekat. Tokoh ini adalah Simon Petrus.

RUT, NAOMI dan BOAS

Kitab Rut adalah kisah singkat yang hanya terdiri dari 4 pasal di dalam Alkitab. Tetapi cerita yang berisi narasi yang pendek ini mempunyai pelajaran berharga. Kisah manusia sederhana Rut dan Boas ini ada kaitan dengan kerangka besar rencana Allah di dalam keselamatan.

Kisah ini terjadi ketika jaman hakim-hakim dimana bangsa Israel berbuat sesuka mereka. Periode hakim-hakim adalah salah satu periode yang kacau di dalam sejarah bangsa Israel semua itu karena satu hal yaitu mereka tidak ada pemimpin yang rohani. Pada saat yang kacau ini ada kelaparan di tanah Israel. Ketika ada kelaparan ini maka Elimelekh dan isterinya Naomi pergi ke Moab. Mereka pergi ke Moab adalah satu keputusan yang salah karena di dalam kitab Taurat dikatakan bahwa jangan bergaul dengan orang Moab. Moab adalah musuh orang Israel dan mereka banyak menyembah berhala.

Refleksi dari Hakim-hakim 8

Kita sudah merefleksikan hidup Gideon dimana dia menjadi begitu berani dan dipakai Tuhan Allah untuk melawan musuhnya Midian. Gideon yang kelihatannya penakut menjadi berani setelah bertemu dengan malaikat Allah. Gideon yang kurang percaya diri menjadi begitu percaya diri. Tetapi kalau kita melihat bahwa ada bahaya ketika seseorang yang minder menjadi percaya diri namun kelewatan percaya diri. Akhirnya dia tidak memuliakan Tuhan karena bergantung kepada diri, berpusat pada diri dan hidup untuk diri. Ini yang dialami Gideon.

Bila kita membaca Alkitab, seringkali seseorang yang sudah maju oleh Tuhan musti berhati-hati. Sebab seringkali banyak kegagalan ketika Tuhan sudah berkati seseorang maka seseorang itu lupa diri. Ambil contoh Salomo. Salomo sudah diberkati Tuhan dan diberikan hikmat namun karena dia begitu masyur maka dia mulai hidup untuk dirinya sendiri. Kita kalau sudah diberkati Tuhan dan maju harus jangan lupa diri. Sebab ini adalah kegagalan.

Kembali ke Gideon.

We have 10 guests and no members online