“Bagi orang berpengertian, pengetahuan mudah diperoleh.” ( Amsal 14:6 )

Bagi orang yang berpengalaman naik gunung, orang itu lebih mudah melakukan survival daripada orang yang tidak berpengalaman. Orang yang berpengalaman naik gunung melihat sekitar dan menemukan banyak makanan. Dia melihat umbi-umbian, mengetahui kalau binatang liar akan melintasi daerah tertentu, mengetahui tempat persembunyian binatang di hutan, dll. Karena itu makanan mudah diperoleh bagi orang yang berpengalaman naik gunung. Apalagi dibandingkan dengan orang primitif yang tinggal di hutan. Mereka mudah untuk hidup dan bertahan hidup karena makanan mudah diperoleh.

Refleksi sederhana hikmat dari Daniel 1

Banyak orang mencari hikmat. Banyak orang belajar untuk supaya menjadi pandai. Banyak orang ingin supaya berbijaksana. Banyak orang ingin berpengetahuan. Tetapi darimanakah datangnya bijaksana itu ? Di dalam kitab Daniel, di dalam kerajaan Babilonia banyak orang bijaksana. Babilonia pada saat itu berkuasa. Namun ada 4 orang bijaksana bijaksananya melebihi semua. Bahkan sepuluh kali lebih bijaksana. Mereka adalah Daniel, Hananya, Misael, Azarya. Padahal mereka orang Israel. Mengapa mereka bisa bijaksana ?

“Hikmat berseru-seru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya” ( Amsal 1:20 )
“Bukankah hikmat berseru-seru dan kepandaian memperdengarkan suaranya?.” ( Amsal 8:1 )

Hikmat dipersonifikasikan sebagai perempuan bijaksana yang memberikan tawaran ajaran bijaksana. Hikmat ini mengundang manusia untuk datang kepadaNya. Dia hendak memberikan ajaran bijaksana dan mengajarkan jalan petunjuk untuk hidup bijaksana. Jalan hikmat adalah jalan menuju kepada kehidupan dan takut akan Tuhan.

“Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulutNya datang pengetahuan dan kepandaian” ( Amsal 2:6 )

Banyak orang mau mencari hikmat. Banyak orang mengatakan dia seorang pecinta hikmat. Makanya ada istilah philosophy ( Philia = cinta, Sophia = bijaksana ). Hikmat ini sangat berharga. Nilainya lebih daripada permata. Hasilnya lebih daripada emas dan perak. Hikmat ini sesuatu yang bernilai dan susah didapatkan. Orang yang mendapatkannya adalah orang yang berbahagia ( Ams 3:12 ). Di manakah kita dapat mencari hikmat ?

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” ( Amsal 27:17 )

Kitab Amsal berisikan mengenai bagaimana supaya kita mempunyai hikmat di dalam hidup ini. Pada permulaan kitab Amsal ditulis tujuan kitab ini yaitu untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan, dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda ( Amsal 1:1-4 ).

“Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran. Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega. Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.” ( Pengkotbah 7:1-4)

Biasanya kita senang kepada hal-hal yang gembira dan tidak senang kepada hal-hal yang menyedihkan. Kita biasanya menganggap bahwa hal-hal yang gembira itu menyenangkan dan baik, sedangkan hal-hal yang menyedihkan adalah adalah hal yang tidak enak dan tidak baik. Ini kebanyakan paradigma manusia. Bahkan kematian bagi orang dunia pada umumnya adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Kematian adalah akhir hidup. Kematian adalah akhir dari eksistensi manusia. Kematian juga begitu mengerikan bagi banyak orang karena hal ini adalah sesuatu asing dan mengerikan. Manusia modern yang begitu membanggakan dirinya yang bisa menguasai alam semesta ini namun pada akhirnya akan menjadi debu dan debu kembali kepada alam. Akhirnya manusia ditaklukan oleh alam. Kematian adalah sesuatu yang mengenaskan.

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. (Amsal 17:17)

Dikatakan bahwa seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu. Di dalam bahasa Inggris dikatakan bahwa A friend love at all times.
Kalau kita membaca mengenai Amsal, Amsal ini banyak menuliskan mengenai hikmat orang Israel. Hikmat orang Yahudi berbeda dengan hikmat orang Yunani. Hikmat orang Yunani adalah akademis abstrak tetapi hikmat orang Yahudi adalah konkrit praktis. Hikmat orang Yahudi adalah bagaimana mempunyai skill untuk hidup yaitu hidup yang berbijaksana. Bijaksana ini supaya di dalam hidup kita mempunyai pengertian dan bisa menyelesaikan pergumulan dan kehidupan dengan baik. Orang dunia pun bisa mempunyai bijaksana tetapi bijaksana di dalam Ibrani adalah dikaitkan dengan Tuhan Allah. Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat.

Ketika merefleksikan hidup dan juga refleksi mengenai usaha saya di bidang IT, saya mulai menyadari bahayanya pola pikir pragmatism ( memikirkan benefit dan yang praktis tanpa mempertimbangkan aspek2 pertimbangan yang lain ). Pragmatism itu membuat hidup menjadi reduksi dan menjadi dangkal. Biasanya di dalam hidup saya, pragmatism yang saya gumuli itu berkaitan dengan bagaimana mengisi waktu dan dikaitkan juga dengan mencari nafkah.

Barusan saya membaca kitab Bilangan 1-3. Biasanya di waktu-waktu lampau, kalau saya membaca kitab Bilangan di awal-awal pasalnya, maka saya akan melewati. Semuanya kan cuma angka-angka dan nama-nama yang kurang terkenal rasanya. Tetapi setelah saya bergumul lebih jauh dengan Alkitab, saya menyadari bahwa semua bagian Alkitab itu adalah kebenaran dan ada maknanya. Saya juga sadar bahwa ketika kita membaca Alkitab jangan membaca dengan hanya melihat tetapi membaca dengan mendengar. Dan pagi ini saya coba menjalani dengan perlahan-lahan ( walaupun sulit bagi saya ) untuk membaca Bilangan 1-3.

Kita mengetahui bahwa kata-kata mempunyai konsekuensi. Kata-kata mempunyai kuasa. Amsal mengatakan bahwa hidup mati dikuasai lidah. Kata-kata bila digemakan akan mendatangkan buahnya. Biasanya kita tahu bahwa kata-kata mengolok-ngolok dan menghina adalah mengakibatkan manusia menjadi terikat dalam kata-kata ini. Ambil contoh coba katakan kepada satu anak setiap hari bahwa dia itu orang yang bodoh. Maka ada kemungkinan anak itu menjadi bodoh. Jadi satu masukan bagi kita bahwa jangan berkata-kata yang menghina kepada orang. Karena itu menjadikan manusia subhuman dan akan membuat dia terikat oleh kata-kata ini.

We have 10 guests and no members online