Refleksi Pribadi tentang Gereja dan Denominasi
 
Dulu seorang Dosen teologi di Institut Reformed yang banyak jadi berkat bagi mahasiswa dan mengajarkan banyak hal mengenai sejarah teologi, musik dan ibadah dan juga mengenai spiritualitas pernah mengatakan satu statemen bahwa satu gereja tidak bisa menampung seluruh kekayaan dari pekerjaan Roh Allah. Saya mengerti hal ini dengan pengertian bahwa tidak ada denominasi gereja apapun yang bisa menampung kekayaan seluruh pekerjaan dari Roh Allah.
 
Mungkin kita ada di dalam satu denominasi gereja dan bertumbuh disitu. Puji Tuhan untuk hal itu ! Denominasi kita sudah menjadi rumah bagi kita. Warisan pemahaman teologi dari denominasi kita sudah menjadi bahasa dan perbendaharaan hidup kita. Hanya saja ketika saya kembali memikirkan bahwa pemahaman teologi itu adalah pengenalan kita akan Allah dan siapakah kita yang ingin mengenal Allah yang maha besar, maha kuasa, maha hadir,maha tahu, maha baik itu di dalam seluruh kekayaannya ? Kita hanya manusia kecil yang terbatas dan seringkali juga dibatasi oleh pemahaman dan keberdosaan kita. Ketika menulis ini juga saya gentar dan merasa bahwa Allah terlalu besar untuk dimengerti. Hal ini bukan berarti tidak bisa dikenal. Sebab kita bukan agnostik. Kita sebagai orang percaya tentunya seorang teisme. Di dalam belajar mengenal Dia kita perlu rendah hati sebab kita mengerti sejauh mana Dia ingin menyatakan diriNya melalui FirmanNya dan melalui pekerjaan RohNya yang memimpin kita untuk mengenal Dia. Ada kalanya kita harus berani membuka horizon dan cakrawala kita.
 
Ketika kita ada di dalam satu denominasi gereja dan sudah jadi kecenderungan bahwa di dalam denominasi apapun setiap gereja punya tendensi menganggap warisan pemahamannya paling benar. Saya yang sangat terbatas ini pernah diijinkan Tuhan ke beberapa denominasi gereja. Baik dari Protestan Injili, Reformed, Karismatik, Gereja brethren, Pantekosta, dan Katolik. Masing-masing mempunyai tradisi yang berbeda-beda. Dan masih banyak gereja lain yang saya belum pernah mengenal atau belajar dari mereka. Seperti gereja ortodok Timur, gereja Metodis, Anglikan, Baptis, dll. Sebenarnya saya lebih banyak dari Tradisi Protestan Injili dan sekolah teologi di Reformed. Dan saya cenderung anti dengan banyak denominasi dan tradisi gereja selain tradisi saya. Semua ini karena sikap berjaga-jaga yang terlalu paranoid dan mungkin juga masuk spirit merasa tradisi paling benar karena kesombongan rohani.
 
Seiring dengan perjalanan kekristenan saya, salah satunya dimulai dari waktu saya menyelesaikan tesis Master saya mengenai Doktrin Allah Tritunggal dari Bapa-bapa gereja sampai konsili Nicea, Chalcedon dan Bapa gereja Agustinus, saya menyadari bahwa proses mengenal teologi itu seperti menemukan kepingan puzzle. Di dalam tesis saya yang dibimbing oleh Ibu Ina Hidayat, memaparkan bahwa ketika Bapa-bapa gereja belajar mengenal doktrin Allah Tritunggal, pemahaman mereka juga bukan lengkap. Ada kalanya pemahaman yang kurang di satu tokoh teolog direvisi di tokoh lainnya. Tetapi kita tidak bisa langsung menghakimi bahwa teolog yang pemahamannya kurang lengkap atau bahkan ada sisi yang kurang tepat itu sebagai bidat. Terlalu gampang kita melabel demikian. Belajar mengenal Allah di masa lampau adalah sebuah proses. Dan di masa kini juga sama. Semua pengenalan itu sebuah proses. Pengenalan itu sebuah relasi bukan sekedar aspek informasi saja. Tetapi relasi mengasihi dan dikasihi. Jadi di dalam perjalanan kekristenan saya, saya belajar mengenal bahwa pembelajaran mengenai Allah itu seperti relasi pasangan suami istri ( metafora perjanjian ). Dan ini sungguh limpah.
 
Kemudian dari beberapa buku pengarang bernama Richard Foster seperti Longing for God, terutama buku Devotionals Classics dan Streams of Living water, saya juga melihat bahwa di dalam kekristenan ada banyak tradisi. Di dalam buku Streams of Living water dipaparkan tradisi-tradisi dalam kekristenan. Ada tradisi kontemplatif dengan kehidupan yang dipenuhi doa. Ada tradisi yang menekankan kekudusan dan kebajikan hidup. Ada tradisi karismatik yang menekankan dipenuhi oleh kuasa Roh. Ada tradisi yang menekankan keadilan sosial dan kehidupan kekristenan yang berbelas kasihan. Ada tradisi Injili yang menekankan kepada kehidupan yang berpusat pada Firman. Dan ada tradisi inkarnasional yaitu kehidupan yang sakramental. Sungguh banyak bukan tradisi dalam kekristenan ?
Lalu dari buku 5 jalan keutuhan hidup yang diterbitkan oleh Penerbit Waskita yang dikelola oleh Ev. Paul Hidayat, saya juga menemukan cara-cara dan jalan-jalan yang dianugerahkan oleh Tuhan untuk menjadi jalan keutuhan di dalam hidup manusia seperti jalan Konseling Alkitabiah, jalan pelayanan penyembuhan, jalan konseling pastoral, jalan arahan spiritual dan jalan perubahan sosial. Menurut buku 5 jalan keutuhan yang coba saya mengerti, Jalan Konseling Alkitabiah ini jalan yang biasa ada di dalam tradisi orang Injili atau Reformed. Jalan pelayanan kesembuhan ini jalan yang biasa ada di dalam tradisi Karismatik. Jalan arahan spiritual biasa ada di dalam tradisi orang Katolik dan ortodoks. Jalan perubahan sosial itu biasa ada di dalam tradisi Liberal.
 
Mungkin melihat begitu limpahnya kekayaan tradisi yang dibagikan dapat membuat tidak secure bagi beberapa dari kita. Karena kita sudah terbiasa di dalam batasan tradisi kita. Saya pribadi merasa kita jangan dengan memakai semangat antithesis melihat sesuatu yang berbeda dengan denominasi dan tradisi kita. Seharusnya semua tradisi ini bisa saling memperkaya. Dan seharusnya bukan untuk dipertentangkan. Dan tentunya bila ada yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan Firman Tuhan di dalam setiap tradisi harus mau rendah hati untuk berubah.
Sebelum saya tutup perenungan saya yang sangat singkat ini, saya ingin membagikan satu hal terakhir. Tuhan memberikan kita manusia sebagai gambar dan rupa Allah itu kekayaan aspek dan dimensi. Ada aspek akal budi, emosi, hati, roh, tingkah laku, perbuatan, imaginasi, dll. Ada orang yang kuat di rasio. Ada orang yang mudah tersentuh perasaannya. Ada orang yang punya kepekaan roh. Ada orang yang suka banyak melakukan aksi sosial. Ada orang yang punya kreatifitas dan imaginasi. Ada orang yang suka ke alam dan menikmati ciptaan Tuhan. Dan menariknya saya percaya di dalam kekayaan seluruh aspek dimensi manusia ini Tuhan bisa berbicara kepada kita. Dan ada gereja yang kuat menekankan aspek rasio. Ada gereja yang banyak menekankan aspek pujian dan penyembahan. Ada gereja yang kuat menekankan aksi sosial. Ada gereja yang mempunyai tradisi kontemplatif dan perenungan. Dan masih banyak lagi yang saya belum sebut. Saya percaya ini semua kekayaan yang Tuhan berikan bagi kita. Tidak ada sebuah denominasi atau gereja yang bisa menampung seluruh kekayaan pekerjaan Roh Allah. Marilah kita menikmati warisan kekayaan pekerjaan Roh Allah yang tersebar di dalam seluruh gereja yang universal.
 
( Terakhir-akhir ini saya yang dari latar Injili mencoba baca pemahaman-pemahaman dari St. Teresa Avila, John the Cross, Thomas Green ( Jesuit ) dan saya terberkati oleh paparan mereka mengenai doa. Ada aspek yang saya pelajari di luar tradisi saya. )
 
Kiranya renungan ini boleh menjadi berkat.
 
Jeffrey Lim

Add comment


Security code
Refresh

We have 7 guests and no members online