Kita sebagai orang percaya, sebagai anak-anak Tuhan, diselamatkan oleh karena anugerah Tuhan, hidup oleh anugerah Tuhan dan bergantung pada anugerah Tuhan. Keselamatan kita bukan semata-mata karena pekerjaan kita, bukan karena perbuatan baik kita tetapi karena anugerah Tuhan semata-mata. Kita dibenarkan oleh karena anugerah melalui iman di dalam karya Kristus di kayu salib. Proses pengudusan (sanctification) kita adalah kerjasama antara usaha kita dan usaha Roh Kudus namun sebenarnya semua itu sesungguhnya pekerjaan anugerah Tuhan. Anugerah Tuhan menjadi tema besar di dalam hidup kita. Lagu Amazing Grace How Sweet the sound menjadi satu lagu favorit yang menggemakan tema besar kita ini.
Ketika kita terus menggumuli sisi kasih Tuhan yang maha kasih, pengampun dan beranugerah, ada kalanya kita melupakan sisi Tuhan yang lain yaitu Allah yang kudus dan adil. Allah yang benci akan dosa, murka akan dosa dan tidak menyukai anak-anakNya hidup terus dalam dosa. Ketika kita terlalu menekankan sisi anugerah Tuhan yang melimpah tanpa menyeimbangkan dengan disiplin dari Tuhan Allah kepada anak-anakNya dapat membuat anugerah yang mahal itu menjadi terkesan murahan. Dan kita dapat menyelekan anugerah Tuhan. Abundant grace dapat menjadi cheap grace.
 
Banyak orang percaya termasuk saya mungkin bergumul dengan dosa-dosa favorit masing-masing. Mungkin kita tidak melakukan dosa spektakuler seperti membunuh orang, korupsi besar-besaran, atau memiliki banyak affair di dalam pernikahan. Namun kita mempunyai dosa yang kita anggap tidak signifikan yang sebenarnya dosa favorit kita. Namun sebagai anak Tuhan, Roh Kudus terus membuat kita gelisah bahwa kita berdosa dan melanggar standar Allah. Dan respon kita adalah datang kepada Tuhan, menyesali dosa kita, mengaku dosa dan berjanji tidak berbuat lagi. Namun kemudian kita kembali mengulangi dosa yang sama dan terciptalah satu siklus rohani berulang yaitu jatuh dalam dosa – mengaku dosa – mengalami penghiburan. Siklus ini kemudian berulang kembali yaitu jatuh dalam dosa lagi – mengaku dosa lagi dan dapat penghiburan lagi. Kabar buruk yaitu lama kelamaan siklus ini menjadi ritual. Ketika kita digelisahkan oleh Roh Kudus bahwa kita sudah berdosa dan melanggar standar kekudusan Allah maka kita cepat-cepat melakukan ritual otomatis seperti orang-orang yang mengalami Obssesive Compulsif Disorder (OCD). Namun kali ini adalah bukan OCD fisik tapi spiritual OCD dimana ritual rohani ini dilakukan untuk menghilangkan perasaan bersalah dan tidak enak yang kita alami.
 
Kalau kita jujur. Mungkin seringkali ritual yang kita lakukan dalam gejala spiritual OCD ini lama kelamaan bukan berpusat pada Tuhan Yesus dan karya penebusanNya tetapi pada ritual itu sendiri yang kita cepat-cepat lakukan untuk menghilangkan perasaan bersalah kita. Akhirnya ini menjadi seperti opium bagi jiwa kita. Apalagi kita sebagai orang percaya seringkali ingat perkataan hamba Tuhan supaya terus menerus mengkotbahkan Injil pada diri kita setiap hari. Ketika kita jatuh dalam dosa maka kita terus mengkotbahkan Injil dan cepat-cepat merasa lepas dari beban rasa bersalah kita dengan mudah. Kita menggunakan pengakuan dosa sebagai opium rohani.
 
Jangan salah paham ! Saya bukan anti dengan kita berkata-kata kepada diri sendiri dengan Firman Tuhan. Saya tidak anti self-talk positif sebab Raja Daud di dalam mazmur 42 juga berkata-kata kepada dirinya sendiri : “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” Raja Daud mau menguatkan dirinya dengan Firman Tuhan. Dan tentunya relasi antara diri dengan diri yang positif akan menguatkan iman. Tetapi yang hendak saya soroti adalah janganlah kita membius diri realita diri kita dengan kata-kata yang kelihatannya positif bahkan Injil. Jangan kita menipu diri kita sendiri.
 
Ada kalanya ketika kita terus menerus hidup jatuh bangun dalam dosa favorit, Allah dapat mendisiplinkan kita dengan perasaan ketidakhadiranNya. Biasa kita beranggapan bahwa Allah itu selalu hadir dimana-mana bahkan selalu hadir di dalam hidup orang percaya. Betul bahwa ada sifat Allah yang maha hadir tetapi secara paradoks Allah juga adalah Allah yang menyembunyikan diri (hiddenness of God). Ini adalah sisi Allah yang lain.
 
Di dalam perjalanan rohani kita bukan tidak mungkin kita mengalami perasaan alienasi dan perasaan ketidak hadiranNya. Malam gelap dalam jiwa dimana kita merasakan bahwa Allah jauh dan tidak hadir sering dinamakan Dark Night of the soul. Bahkan orang-orang kudus yang besar di dalam perjalanan hidup mereka dapat mengalami dark night of the soul. Rohaniawan dan hamba Tuhan seperti Henri Nouwen juga pernah mengalami hal seperti ini. ( http://www.soulshepherding.org/2015/06/henri-nouwens-secret-journal/ ). Dikatakan bahwa Henri Nouwen felt “completely abandoned” by God. He wondered, Is God real or just a product of my imagination?. Mother Teresa dari Calcuta juga pernah mengalami perasaan jauh dari Tuhan. Teresa pernah menulis “I am told God lives in me,” she wrote in 1957, “and yet the reality of darkness and coldness and emptiness is so great that nothing touches my soul.”
 
Puji Tuhan ! Sesungguhnya Allah dapat menggunakan Dark Night of the soul untuk mendisiplin dan memurnikan kita. Dark Night itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang buruk bahkan bagian dari sisi anugerah Tuhan. Seringkali di dalam kegelapan jiwa kita justru bertemu dengan titik terang. Ketika di dalam Dark Night maka menyadarkan kita betapa terpuruknya kita, betapa remuk dan hancurnya kita. Dan dalam keadaan seperti ini membuat kita menyadari benar-benar betapa kita membutuhkan anugerah Tuhan serta bergantung kepadaNya. Ketika kita mengalami perasaan terror dan kegelapan jiwa membawa kita untuk rindu kepada hadirat Tuhan seperti dalam Mazmur 23 : Tuhan gembala kita yang membaringkan aku di padang yang berumput hijau, yang membimbing aku ke air yang tenang, yang menyegarkan jiwaku dan menuntunku ke jalan yang benar. Ketika kita di dalam kegelapan malam di dalam jiwa membuat kita rindu Firman Tuhan yang mengatakan bahwa hanya dekat Allah saja aku tenang. Dari padanya lah keselamatanku ! (Maz 62). Dark night of the soul dapat menjadi tempat kita bertemu dengan Allah kembali.
 
Akhir kata yaitu memang benar bahwa keselamatan itu adalah anugerah Tuhan. Hidup kita adalah oleh anugerah. Dan itu adalah anugerah yang mahal dimana Anak Allah harus mati di kayu salib. Ketika kita menganggap remeh anugerah Allah, Tuhan dapat menggunakan Dark Night of the soul supaya kita kembali merindukan bukan berkatNya tetapi diriNya yang merupakan sumber sukacita bagi kita. Dan Dark Night itu sendiri adalah anugerah Tuhan dimana kondisi itu membuat kita berseru kepadaNya
 
Jeffrey Lim

Add comment


Security code
Refresh

We have 6 guests and no members online